Lembaran sejarah berdirinya peradaban masyarakat adat, pemetaan wilayah geografis, dan potensi lokal yang kami miliki.
Nama Ladang Rimbo secara harfiah menggambarkan fase awal pembentukan permukiman ini oleh para pendahulu (niniak mamak). Kata "Ladang" menunjukkan wilayah pertanian yang dibuka, sedangkan "Rimbo" menggambarkan kawasan yang dahulunya merupakan hutan lebat di perbukitan Sungai Geringging.
Secara historis, pembentukan wilayah ini diawali oleh migrasi sekelompok masyarakat dari pesisir Pariaman atau wilayah darek (pedalaman Minangkabau) yang merambah hutan lebat (mambuko rimbo) untuk bercocok tanam menetap, hingga bertumbuh menjadi permukiman permanen.
Perintisan kawasan perkebunan dan permukiman di tengah hutan lebat perbukitan Sungai Geringging oleh kelompok niniak mamak pendahulu.
Meningkatkan pelayanan publik dengan membagi wilayah menjadi dua area administrasi: Korong Ladang Rimbo Barat dan Korong Ladang Rimbo Timur.
Integrasi kedua korong sebagai pilar utama pembentukan nagari persiapan baru untuk mempercepat pembangunan infrastruktur perbukitan.
"Menganut sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan ibu) yang berakar kuat."
Hadir beberapa klan/suku dominan seperti Panyalai, Koto, Jambak, dan Mandailing. Urusan tanah ulayat, perkebunan, dan sosial disepakati bersama oleh Penghulu/Datuk, alim ulama, dan cadiak pandai.
Meliputi area kebun, pemukiman & persawahan.
Kawasan perbukitan berudara sejuk.
Ladang Rimbo Barat & Timur.
Optimal untuk kelapa & kakao.
Kondisi geografis Ladang Rimbo yang berbukit-bukit membentuk mata pencaharian utama masyarakat pada sektor perkebunan rakyat. Komoditas unggulan yang dibudidayakan secara intensif meliputi kelapa, cokelat (kakao), pinang, dan karet.
Di samping komoditas perkebunan lahan kering, ketahanan pangan dan sektor pertanian basah lokal didukung penuh oleh jaringan irigasi primer dari aliran air Batang Sikaciak. Sungai ini menjadi urat nadi vital yang mengaliri puluhan hektare sawah produktif di seluruh korong.
Kekuatan hubungan kebersamaan antarwarga yang harmonis, baik yang menetap di kampung halaman maupun yang berkarya di tanah rantau.
Kehidupan komunal diperkuat oleh nilai gotong-royong yang solid untuk pembangunan desa. Selain itu, terdapat tradisi buru babi (apor) sebagai ajang silaturahmi mingguan yang mengumpulkan warga dari berbagai penjuru.
Para pemuda dan warga yang merantau ke berbagai kota besar terhimpun dalam paguyuban perantau yang aktif. Mereka senantiasa berkontribusi nyata membangun fasilitas umum dan tempat ibadah di kampung halaman.
Lembaga keagamaan lokal seperti TPA/TPSA Al-Mukminin Ladang Rimbo telah menorehkan prestasi hingga tingkat nasional dalam mendidik generasi muda, khususnya pada cabang hafalan dan musabaqah.